Jumat, 29 September 2017

Ketika Sang Ibu Bertanya

Ruang keluarga penuh, sungguh tak seperti biasanya. Ada yang membuatnya terlihat lebih sempit yaitu tempat tidur yang memang sengaja diletakkan di situ. Bukan tanpa alasan, ini karena beberapa hari lalu ibu baru saja pulang dari rumah sakit. Sudah dua minggu ibu dirawat di sana, walaupun belum sembuh benar, beliau harus pulang. Jika sudah sedikit baikan tentu saja akan lebih baik jika dirawat jalan saja di rumah.
Aku yang tak selalu mendampingi beliau bukannya tidak khawatir. Tentu saja sebagai anak, rasa sedih pasti menghampiri. Ibuku kini pulang dalam kondisi tidak bisa berjalan. Beliau dibantu menggunakan kursi roda. Jika harus buang air saja berensot atau berpindah dengan posisi duduk.
Hari itu, seperti biasa aku pulang ke rumah dari tempat kerja yang letaknya jauh dan menempuh waktu sekitar 2 jam menggunakan bus. Walaupun tak setiap hari pulang, lelah pasti terasa di badan. Walau kita membantah, tapi badan pasti jujur pada dirinya sendiri. Aku yang selalu bertahan pada hari senin sampai dengan kamis, ambruk juga. Aku yang selalu meyakinkan bahwa diriku baik-baik saja di sana memang tidak baik-baik saja. Bayangkan saja, selama empat hari itu aku sama sekali tidak buang air besar. Sungguh ironis, entah karena kurang serat atau perutku pandai memilih tempat. Aku khawatir dengan keadaan ini. Setiap kali di sana, aku memang membantah kalau suhu badan lebih tinggi dari biasanya. Yang membuat tampak jelas adalah gejala flu yang ku alami, batuk-batuk. Tapi biasa aku berpikir itu cuma biasa saja.
Aku yakin, setiap orang yang punya rumah dan keluarga pasti ingin pulang. Rumah tanpa keluarga bukanlah rumah. Mungkin hanya bisa dibilang rumah singgah. Rumah yang membantu penggunanya agar tak repot bepergian jauh untuk sementara. Semuanya ingin kembali, termasuk aku. Bahkan yang ku amati di sekitar, ada yang sudah menikah masih saja ingin pulang. Malah mereka memilih tetap tinggal bersama orangtua mereka walaupun sudah bersuami. Atas dasar pemikiran itu, ku kira diriku hanyalah manusia normal yang tak berbeda dari yang lainnya.
Setiap orang punya sudut pandang yang berbeda dalam melihat sebuah masalah, itu ditentukan oleh seberapa banyak pengalaman yang mereka dapatkan sepanjang hidupnya. Bahkan ada yang berumur sama juga berbeda, tergantung kondisi lingkungan tempat dia tumbuh dan berkembang. Ada hal yang sulit bagi orang lain, ternyata mudah bagi yang lainnya. Begitu pula sebaliknya. Cukuplah memahami kondisi masing-masing, sering menggunakan kata seandainya. Ya, seandainya saya adalah dirinya, dapatkah saya mengatasinya? Jika jawabannya ya, mungkin anda memang hebat atau anda yang mengabaikan beberapa variabel. Anda yang terlahir memang dalam kondisi yang kekurangan, akankah sama dengan orang yang terlahir sebaliknya? Anda memang lebih berpengalaman.
Aku yang terlalu sibuk denganpemikiranku sendiri, masih bisa membaca semuanya. Karena aku berpikir bagaimana jika mereka adalah diriku, pastilah timbul pemikiran seperti itu. Tapi ku buang saja semuanya, agar hidup lebih bahagia. Cuma aku tak tahu apakah mereka juga berpikir layaknya diriku.
Aku tiba di rumah sudah hampir jam tiga. Duduk sebentar menunggu azan sambil menunggu suhu tubuh kembali normal barulah mandi. Apakah karena mati rasa, aku merasa baik-baik saja makanya mandi. Memang sih waktu pulang, ragaku sedikit lemah. Tapi aku tak pernah berpikir bahwa itu akan berlanjut. Selesai solat, lama kelamaan aku merasa kedinginan. Mataku rasanya agak panas, berat sekali sungguh ingin tidur.  Tanpa ragu, ku ambil selimut dan berbaring di kamar sendiri. Walau pun sudah menutup mata, tetap saja aku tak bisa tidur. Karena kesepian, aku memutuskan berbaring di ruang keluarga. Di sana ada ibu yang berbaring lemah, dan tante yang sedang mengurus anaknya. Aku berbaring di situ. Lama kelamaan ibu bertanya,”Demam ke, Nak?” (apakah kamu demam, anakku?). Dan tentu saja menjawab, “Ndak, Mak” (tidak mak). Aku memang tak ada niat untuk cuti kerja. Aku dengan pemikiran positifku tentu saja menganggap mungkin saja ini efek malas, bukan demam. Tanteku pun menyentuh tubuh dan dahiku,”Aok demam die” (ya, dia memang demam). Dan aku pun menanggapi bahwa aku tidak tahu kalau tubuhku demam. Ku kira itu hanya malas biasa. Aku yang bersikukuh tidak demam akhirnya ketahuan demam. Padahal aku ingin sekali besok tetap pergi kerja.

Aku dan pemikiranku memang tidak enak jika harus absen lagi. Pikiran orang pasti berimprovisasi. Aku yang memang tak suka dengan alasan, tentu saja tak suka memberikan alasan. Inilah, itulah. Karena alasan takkan pernah mengubah keadaan. Bahkan ada yang tidak senang dengan alasan yang diberikan. Padahal kenyataannya seperti itu. Hanya mereka yang belum mengalaminya. Perasaanku memang tidak salah. Absen kali ini membuatku terluka. Maafkan aku yang terlalu sensitif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bangkai

Bunga-bunga bangkai Mari hitung per tangkai Tiada hendak menggapai Harum yang tak sampai Bunga-bunga bangkai Tumbuh di sunyi lantai Tak perl...