Lagi-lagi salah fokus. Nada-nada indah itu mengalun perlahan ke dalam benak mendampingi tulisan masa depan. Lirik berbahasa asing itu memang begitu mendalam artinya, “cinta pertama”. Pikiranku jauh melayang membayangkan cinta pertamaku. Dia yang menemaniku sebelum melihat dunia ini. Dia yang jauh lebih berharga daripada siapapun. Dia yang memberikan cintanya tanpa pamrih. Kini, aku hanya bisa mengingatnya, membayangkannya. Seberapa besarnya aku bersikeras untuk memutar ulang waktu, takkan bisa. Walau sudah beberapa tahun, rasa itu masih seperti kemarin saat aku kehilangannya. Dua ribu sembilan belas, semoga aku selalu ikhlas. Dua ribu dua puluh, semoga aku tak banyak mengeluh.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Malam
Mataku terasa kering Detak jam seakan nyaring Kepala menjadi pusing Waktu hampir berdering Jantungku berdegup kencang Detak jam seakan garan...
-
Suatu ketika, saat waktumu terbagi dua, ada bisikan yang bisa jadi adalah janji. Di antara siang dan malam, hidupmu akan ditentukan. Kamu p...
-
Abu-abu bukan hitam Menunggu sampai malam Apa dayaku hingga tenggelam Menyatu dengan alam Abu-abu bukan putih Menunggu sampai letih Apa daya...
-
Assalamualaikum Sebenarnya sudah lama saya ingin mencari informasi tentang ini, namun belum menemukan waktu yang tepat. Banyak aktivitas me...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar