Langkah masih berada pada rute yang sama namun pandangan terfokus pada lemari kaca tempat menaruh kue-kue lebaran. Pandangan tertuju pada bagian atas lemari. Terlihat benda persegi panjang berwarna kuning (baca:flaskdisk) yang ku ketahui adalah milik ayah. Penasaran dengan apa yang ada di dalamnya, akhirnya memutuskan untuk membuka laptop dan melihat file file yang tersimpan di folder folder yang lumayan banyak. Tibalah pada sebuah folder yang bernama "image". Ada banyak folder di dalamnya. Ternyata itu adalah kumpulan foto dari memori hape merek Nokia N73 milik ibu saya dulu. Entah kapan saya memindahkan file tersebut ke flashdisk. Yang saya ingat hanya sepeninggal ibu, hape diberikan kepada abang saya dan sekarang hapenya udah tidak ada. Lupa apakah mati, atau hapenya yang dicuri. Ngomong-ngomong tentang barang-barang yang dicuri, saya jadi ingat kasus-kasus pencurian yang melibatkan "file". Kita ambil contoh barang yang hilang itu adalah hape. Saat barang hilang, tentu kita sedih mengingat perjuangan kita untuk mendapatkan barang tersebut. Walaupun kita yang barangnya hilang tersebut punya kemampuan untuk membeli yang baru, persis, atau lebih mahal dari barang yang sebelumnya. Tapi tahukah anda wahai pencuri, ada hal yang sangat menyakitkan dari insiden kehilangan barang tersebut. Mungkin bagi anda si pencuri, anda berpikir hanya mengambil benda tapi tahukah bahwa anda juga telah menghapus kenangan mereka. Masa-masa yang takkan pernah mereka bisa dapatkan kembali.. Bahkan saat mereka tidur di lumbung emas.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Bahu
Orangnya itu-itu saja Tiada yang menyangka Rasa terbelah dua Jiwa dan raga Orangnya itu terus Tiada yang mengurus Rasa perlahan tergerus Sem...
-
Lagi-lagi daku mengantuk Pintu mana bisa diketuk Ingin daku segera masuk Tapi kaki terasa ditusuk Lagi-lagi kantuk menyerang Pintu mana bisa...
-
Mungkin sepanjang hidupnya lelah Di matamu semua tak indah Ingin ku mengurai kisah Tapi tiada yang mengatur langkah Mungkin sepanjang hidupn...
-
Balas dengan senyum Kata yang mengaum Niscaya ketika ranum Laku mirip pendulum Senyum dengan ikhlas Hati yang memanas Niscaya ketika tuntas ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar