Jumat, 29 Juli 2016

Virus "W"


Ada hal yang bisa disukai oleh hampir seluruh orang. Selera yang sama akan sedikit “mengganggu” segelintir orang yang mempunyai selera berbeda.  Ketika kita menjadi kaum “minoritas”  tentu akan muncul berbagai pertanyaan. Salah satunya, apa yang membuat hal itu menarik bagi banyak orang. Yang mengejutkan adalah ketika salah satu kaum minoritas sempat mempertanyakan kenormalan dirinya sebagai manusia. Mengapa dia berbeda? Apakah ada yang salah dengan dirinya? Ya tentu saja sebenarnya tidak ada yang salah dengan dirinya. Hanya saja dia mungkin lebih senang berada di kaum mayoritas. Ataukah dia membenci hal yang banyak disukai orang? Entahlah...
Nah, saya akan bercerita sedikit tentang keberadaan saya sebagai kaum “minoritas” dan “mayoritas”. Ketika hape Nokia 3315 lagi booming-nya di Indonesia, sebuah stasiun televisi menayangkan sebuah drama korea yang berjudul “Endless Love”. Di kala itu saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Pemain yang ganteng, cantik, dan alur cerita yang menarik membuat drama itu disukai oleh banyak orang Indonesia, tak terkecuali saya. Di situ saya mengganggap diri masuk dalam kaum “mayoritas”. Tak lama berselang (ah mungkin juga sudah lama karena saya tidak tahu kapan tepatnya itu terjadi), ditayangkanlah drama korea “Full House” dan saya kembali masuk dalam kaum “mayoritas”.
Pengalaman jadi kaum “minoritas” tentu saja ada. Entah karena drama itu tayang di saat yang tidak tepat (backsong: Fatin – Memilih Setia) atau yang lain saya kurang tahu. Mungkin saat itu saya sedang berkonsentrasi dengan hal lain, bisa jadi saja kan? Mereka yang membuat saya jadi kaum “minoritas” (menurut saya lho jadi jangan marah) adalah “You’re Beatiful”, “Secret Garden”, “Coffee Prince”, dsb. Yang lebih mencengangkan adalah ketika hampir seluruh masyarakat dunia (mungkin) memuja-muja “Descendants of the Sun”, saya tidak selesai menontonnya. Saya tidak sanggup bergerak maju, tidak ada niat untuk melanjutkan. Ahhhh.. Padahal yang main ganteng dan cantik..
Untuk saat ini, saya rasa masuk kaum “mayoritas”. Ada drama punya rasa yang beda. “W – Two Worlds” menceritakan kisah cinta antara dua dunia, yaitu dunia webtoon dan dunia nyata. Senang sekali bisa nonton drama fantasi romantis yang tidak mainstream. Satu episode saja berulang kali ditonton. Rasanya tidak puas jika hanya nonton satu kali.  Ingin, ingin, dan ingin lagi. Lihat kisah cinta mereka rasanya meleleh. Mungkin saya sedang terjangkit virus “W”..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bangkai

Bunga-bunga bangkai Mari hitung per tangkai Tiada hendak menggapai Harum yang tak sampai Bunga-bunga bangkai Tumbuh di sunyi lantai Tak perl...