Rabu, 14 September 2016

Baper

"Masukkan kata sandi" adalah peringatan yang keluar saat ku tekan tombol power handphone android milikku. Ku masukkan empat digit nomor andalanku. Secepat mungkin ku tekan aplikasi browser. Kupilih logo facebook dan mulailah aku masuk ke dalam dunia media sosial itu. Pemberitahuan dari facebook katanya ada kenangan hari ini. Karena penasaran, mulailah aku buka pemberitahuannya. Sampailah pada kenangan sebuah status yang tertulis: terlalu menakutkan melihat kata "kenangan". Ya, status itu dibuat tepat satu tahun yang lalu di saat aku mungkin sedang "baper". Baper adalah keadaan yang sulit untuk diungkapkan, yang ku alami hampir setiap hari haha. Baper, tak semata-mata soal cowok. Banyak hal di dunia ini yang patut untuk kita sedihkan. Misalnya: perjuangan yang tak dianggap. Usaha keras yang sudah kita lakukan, nyatanya bernilai nol besar! Keinginan yang terlalu tinggi sebenarnya tidak begitu buruk, namun menyakitkan bagi orang yang punya keinginan. Memperoleh hasil yang maksimal, sudah barang tentu inilah yang diharapkan oleh semua orang (mungkin). Atau hanya akukah yang berpikir begitu? Untuk meredam rasa sakit hati, ku turunkan standar penilaian. Melatih hati agar memaklumi bahwa mereka tidak akan mendapatkan hasil maksimal. Lagi-lagi harus kecewa saat standar yang telah diturunkan itu masih saja tidak tercapai. Beban moral. Hati dan pikiran ingin melakukan yang terbaik namun tetap saja diri merasa ada yang salah. Diri yang cukup tahu kelemahan yang dimiliki, tentu saja bersedih. Sebuah kata "profesional" ingin sekali dicapai. Sekedar penyemangat diri untuk mengarungi dunia ini. Namun kacamata orang lain ternyata sama saja seperti aku menilai diriku. Kecewa? Jelas. Gak ada yang memujiku sudah melakukan pekerjaan sebaik-baiknya. Walau inilah kemampuan optimal yang ku punya. Bukan hanya sekali merenung untuk memperbaiki. Usaha yang dilakukan juga tidak sedikit. Namun tetap saja kembali, karena pada dasarnya sifat itu ya begini. Inilah aku! Aku yang tumbuh dengan kasih sayang yang penuh, pendidikan moral tinggi, dan berada di posisi kelahiran seperti inilah yang mempengaruhiku. Aku tak terbiasa marah-marah karena tidak ada yang bisa aku marahi. Aku terbiasa mendapat perintah, bukan memerintah.  Aku terbiasa marah dalam diam seperti aku mencinta dalam diam. Tolong..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bangkai

Bunga-bunga bangkai Mari hitung per tangkai Tiada hendak menggapai Harum yang tak sampai Bunga-bunga bangkai Tumbuh di sunyi lantai Tak perl...